Tags

Related Posts

Share This

Evolusi Business Model Otopedia.com

This article is extracted from William Henley’s blog Bizlosophy.com with his permission

Dalam beberapa artikel yang telah saya publikasikan melalui blog ini, saya selalu mengatakan bahwa proses monetization sebuah StartUp di Indonesia sangatlah sulit dilakukan, baik melalui business model eCommerce, subscription maupun jualan iklan.

Kesulitan untuk merealisasikan business model eCommerce sudah saya bahas melalui artikel saya dengan judul “eCommerce Indonesia: Bayarnya Pakai Apa, Boss??

Saya tidak melihat banyak kasus dimana monetisasi melalui subscription telah berjalan dengan baik dan menguntungkan. Beberapa StartUp yang sepengetahuan saya menerapkan subscription sebagai business model adalah beberapa penyedia aplikasi reader seperti WayangForce & Scoop. Selain dari itu, ada juga beberapa portal industri yang menerapkan biaya berlangganan (subscription) supaya dapat memperoleh akses ke materi-materi yang ada dalam portal tersebut.

Saya tidak berani meng-klaim bahwa saya mengerti 100% proses monetization yang diterapkan oleh WayangForce & Scoop, oleh karena itu saya tidak akan membahasnya dalam tulisan saya kali ini.

Dalam kesempatan ini, saya ingin memaparkan betapa sulitnya untuk menerapkan jual iklan sebagai business model sebuah StartUp.

Saya yakin jual iklan merupakan business model yang paling sering dipertimbangkan sebagai metode monetisasi oleh banyak StartUp, mungkin karena sudah terbiasa mendengar cerita mengenai banyaknya situs-situs web yang mendapatkan income dengan cara menjual iklan.

Portal otomotif milik saya, Otopedia.com awalnya dibuat dengan strategi monetisasi melalui subscription (berlangganan) dan jual-iklan. Melalui tulisan ini, saya akan bercerita tentang evolusi proses monetisasi yang telah dilalui oleh Otopedia.com.

 

Filosofi Otopedia.comdidasarkan oleh keinginan untuk memberikan alternatif media promosi kepada pelaku bisnis jual-beli mobil, baik individual maupun showroom. Selama ini, media paling dominan dan paling efektif adalah dengan memasang iklan baris di beberapa surat-kabar harian dengan harga sekitar Rp.150.000,- per dua baris kolom per hari.

Melihat biaya pemasangan iklan baris yang tidak sedikit ini, saya berpendapat alangkah baiknya apabila saya dapat membangun sebuah platform iklan mobil via internet dengan menawarkan layanan berlangganan bulanan yang menurut saya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan pasang iklan via iklan baris di surat kabar.

Versi awal Otopedia.com ditawarkan kepada showroom mobil dengan biaya berlangganan Rp.500.000,- per bulan tanpa batasan banyaknya mobil yang boleh di-listing. Strategi ini tidak berhasil karena sebagian besar pemilik showroom yang kita tawarkan tidak melihat ’value’ yang ditawarkan olehOtopedia.com.

Mungkin pemikiran pemilik showroom adalah ”Buat apa juga saya bayar Rp.500.000,- per bulan, kalau hasilnya tidak ada. Lebih baik saya bayar Rp.150.000,- per mobil per hari tapi mobil saya punya kemungkinan lebih tinggi untuk terjual.” Selain itu, mungkin para pemilik showroom berpikir tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli perangkat komputer dan juga akses internet yang dibutuhkan untuk melakukan upload iklan keOtopedia.com.

Melihat kondisi di atas, saya melakukan penyesuaian dengan menurunkan harga berlangganan menjadi Rp.250.000,- per bulan. Tetap saja tidak banyak animo dari para pemilik showroom.

Akhirnya sesudah beberapa lama tidak melihat perkembangan yang positif, saya memutuskan untuk melakukan survey lapangan sekali lagi ke para pemilk showroom tersebut. Pada saat itu juga saya memutuskan untuk menghapuskan biaya berlangganan menjadi ”0” (nol rupiah) tanpa mengurangi fitur. Tapi pada saat ini juga saya mendapatkan respons yang cukup mengagetkan dari para pemilik showroom. Hampir semua pemilik showroom mengatakan bahwa mereka tidak keberatan apabila Otopedia.commau datang mengambil foto mobil-mobil yang di showroom mereka dan upload dilakukan oleh staff Otopedia.com. Akan tetapi mereka tidak akan mengalokasikan waktu dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut, walau biayanya GRATIS.

Tentu saja saya terhenyak dengan kondisi di lapangan yang demikian challenging.

Kondisi lapangan di atas praktis berarti bahwa apabila saya menginginkan content yang fresh & ter-update di Otopedia.com, maka saya harus memiliki pasukan yang luar biasa besar untuk mendatangi showroom-showroom yang ada di seluruh Indonesia dan mengelola listing dari showroom tanpa dibayar sama sekali.

Berhubung karena untuk segment otomotif diperkirakan akan sulit untuk mendapatkan biaya berlangganan dari pengiklan maupun dari user, makaOtopedia.com harus bisa monetisasi sebagai penjual iklan, yang mana hanya bisa dilakukan apabila traffic dan content sudah tinggi dan memiliki nilai jual kepada calon advertiser.

Saat tulisan ini dibuat, Otopedia.com memiliki traffic sekitar 2500 unique visitors per hari, yang mana dari sudut pandang calon pengiklan masih belum memiliki value yang cukup untuk pemasangan iklan.

Bisa saja Otopedia.com memutuskan untuk melakukan investasi untuk meningkatkan traffic & unique visitors hingga mencapai tahap yang menarik pemasang iklan. Pertanyaannya adalah apakah biaya yang muncul dalam proses meningkatkan traffic tersebut sebanding dengan revenue yang muncul dari pengiklan? Buat saya sebagai pemilik Otopedia.com, rasanya biaya marketing yang harus dikeluarkan masih belum sebanding dengan revenue yang bisa diraih dari penjualan iklan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk merubah konsep Otopedia.com menjadi portal otomotif yang user-generated-content dan mengandalkan word-of-mouth marketing dan Search Engine Optimisation untuk generate traffic. Setidak-tidaknya dengan cara begini, Otopedia.com bisa sustain sebagai sebuah layanan yang bermanfaat dan berkembang secara organik tanpa membutuhkan biaya operasional yang tinggi.

Tulisan saya ini bermaksud menunjukkan bahwa strategi monetisasi bukanlah sesuatu yang mudah dan bisa dianggap remeh. Strategi monetisasi juga selalu terkait dengan biaya marketing yang sering kali tidak sebanding dengan potensi revenue yang bisa diperoleh. Hal inilah yang benar-benar harus dipahami dan dicermati oleh teman-teman kita pelaku StartUp.

Jika ada teman-teman yang merasa mampu untuk membantu saya untuk meningkatkan traffic ke Otopedia.com hingga mencapai tahap yang memiliki nilai jual yang tinggi kepada advertiser tetapi tanpa menguras kantong, silahkan segera menghubungi saya untuk bekerjasama.

Jika program marketingnya sukses dan sustainable, mungkin bisa juga di-implementasikan ke startup-startup lainnya sebelum mereka pada berguguran karena gagal memperoleh revenue yang sustainable, ataupun sebelum mendapatkan dana investasi dari Venture Capital.

Ditulis oleh:

William Henley

My LinkedIn Profile

My Twitter: @WilliamBotak

Silahkan subscribe ke RSS Feeds supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.

william

Fortune Magazine's Top 40 Executive Under 40, Corporate Strategist Extraordinaire, Investment Banker, Entrepreneur

More Posts - Website - Twitter - Facebook